Selasa, 28 April 2009

Ingin Punya Rumah atau Ingin Istana di Surga

Kapan punya rumah sendiri? Aku bingung mau menjawabnya. Soalnya meskipun rumah yang ditempati sudah dipasrahkan untukku, tapi ini bukan dari hasilku, melainkan merupakan warisan orang tua.

Terkadang pertanyaan itu sering muncul. Sudah lama loh berumah tangga. Kapan Abi mau buat rumah untukku?

Aku katakan, "Bukan hanya rumah yang dibuat, tapi Abi membangunkan Istana untuk kita."

Meskipun belum nyata, tapi kita harus punya keyakinan bahwa istana itu sudah ada di dunia ini. Rasulullah menegaskan tentang rumah tangga beliau dengan mengatakan, "Baiti Jannati" Rumahku adalah syurgaku. Suatu pernyataan yang menggambarkan tentang bahagianya rumah tangga Rasulullah. Kitapun bisa mewujudkannya, ketika kita mampu mengaplikasikan ajaran Islam dalam setiap sisi-sisi kehidupan.

Keinginan mempunyai rumah sendiri haruslah kuat, berbagai usaha yang halal sangat penting sekali untuk bisa mewujudkannya. Selain itu juga, kita bukan hanya mengingin rumah di dunia ini saja. Sebagai seorang muslim, kita harus memiliki visi yang jauh ke depan, mampu menembus batas. Kebahagiaan yang kita raih jangan sampai berakhir di dunia ini saja. Bagiamana kita juga berfikir agar akhirat kelak kitapun bisa bahagia.

Di dunia ini kita ingin memiliki rumah. Di akhirat lebih dari sekadar memiliki rumah, Allah akan membangun Istana di syurga bagi hamba-Nya yang mau. Trus bagaimana agar kita dapat dbangunkan istana di syurga? Berikut mudah-mudahan sangat bermanfaat:

1. Melaksanakan Shalat Sunnah Rawatib 12 Raka’at dalam sehari

Dari Ummu Habibah ra, ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Tidaklah seorang hamba muslim melaksanakan Shalat sunnah (bukan fardhu) karena Allah, sebanyak dua belas rakaat setiap harinya, kecuali Allah akan membangunkan sebuah rumah untuknya di Surga’.” (HR Muslim).

Salah satu keutamaan shalat sunnah rawatib yang diriwayatkan oleh Muslim di atas, yakni dengan shalat sunnah rawatib sebanyak 12 raka’at adalah dibangunkannya rumah oleh ALLAH di surga.

12 raka`at itu terdiri dari 4 raka`at sebelum shalat Zhuhur, 2 raka`at setelahnya, dan 2 raka`at setelah shalat Magrib dan 2 raka`at setelah shalat Isya, serta 2 raka`at sebelum shalat Shubuh sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.

2. Saling mendahului dalam mengucapkan Salam

Pernah sahabat Rasulullah, Umar bin Khatab mengadukan Ali bin Abi Thalib kepada Rasulullah. "Ya, Rasulullah, Ali bin Abi Thalib tidak pernah memulai mengucapkan salam kepadaku..." Rasulullah lalu menanyakan hal itu kepada Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib membenarkan pengaduan Umar bin Khatab itu. "Ya, Rasulullah, itu kulakukan karena aku ingin supaya Umar bisa mendapatkan istana di Surga! Seperti yang disabdakan olehmu, ya Rasulullah. Bahwa siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah akan mendirikan istana baginya di Surga."

Bayangkan dengan memberi salam kita bisa membangun istana di Surga. Dengan salam, hati-hati kita terikat untuk saling mencintai. Kenapa kita tidak bersegera menebar salam kepada sahabat, handai taulan, keluarga dan saudara-saudara kita seiman? Sabda Rasulullah, "Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian." (HR Muslim)

3. Membangun Masjid

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membangun masjid dengan hartanya maka Allah akan membangunkan sebuah rumah untuknya di surga. ” (HR Ibnu Majah)

Dalam sebuah perjalanan biasanya ada sebagian kaum muslimin yang membangun masjid dengan meminta sumbangan dengan cara meminta kepada para pengguna jalan, jangan sungkan-sungkan untuk menyisihkan beberapa rupiah untuk kita infaqkan untuk pembangunan masjid tersebut.

Terkadang kita terlalu banyak berfikir dengan hitung-hitungan matematis, harta yang kita infaqkan berarti akan mengurangi harta kita, dengan demikian kita akan mengalami kerugian dengan berkurangnya harta kita. Padahal sesungguhnya bila yang kita pakai adalah perhitungan keimanan, maka hasilnya akan menjadi lain. Harta sesungguhnya yang kita miliki adalah harta yang kita infaqkan, sedangkan yang ada pada kita belum tentu menjadi milik kita. Bisa jadi ada yang mencuri, merampok, terjadi bencana alam atau kejadian apapun yang menyebabkan harta itu berpindah dari tangan kita

Firman Allah swt: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:261)

Dengan menyisihkan sebagian harta yang kita miliki untuk pembangunan masjid berarti telah membuktikan diri kita seorang mu’min. Karena dengan demikian kita termasuk orang-orang yang memakmurkan masjid. Dan sebagai gantinya, Allah akan mempersiapkan rumah buat kita di surga nanti.

Firman Allah swt: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 9:18)

10 komentar:

Anonim mengatakan...

msh adakah harapan bwt saya utk mendapatkan 'baiti jannati' di dlm rmh tangga?jika keinginanku bertepuk sebelah tangan? Krn sy tdk ingin memperoleh rumah ato istana di surga hny sndirian,sy ingin ajak teman sejati yg tlah menemani sy di bahtera ini,tp sudikah ia menemani ?

bijak kelana mengatakan...

harapan itu masih ada, hidup ini merupakan sebuah perjuangan yang kan menemui banyak sekali tantangan dan ujian, Allah berfirman :

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" (QS. Al Mulk : 2)

berjuanglah saudaraku, jalan itu masih terbentang, kita harus berfikir positif. yakinlah selama matahari masih bersinar, selama kita masih terus berjuang, harapan itu masih ada.

Gunakan berbagai strategi, jika dari kita tidak mampu, coba dengan cara lain. Misalnya, siapa orang yang paling berpengaruh terhadap dirinya. Coba ingatkan melalui orang tersebut. Tentu harus benar-benar dapat kita percaya, jangan samapai menambah permasalahan baru.

Bisa melalui anak, saudara dari dia, orang tua dia, teman dekat dia, dll. Bangunlah komunikasi yang baik. Jika telah mampu membangun komunikasi, maka sesgala sesuatunya dapat di diskusikan untuk mencari jalan keluarnya.

Perhatikanlah hal apa sajakah yang membuatnya tidak suka. dan hal apakah sajakah yang membuat dia senang. Hindari segala hal yang membuatnya dirinya tidak suka, berusaha bahagiakan dengan hal-hal yang membuat dirinya senang.

semuanya kan berakhir. Badai pasti kan berlalu. Allah bersama orang-orang yang mau mendekatkan diri pada-Nya. Adukan masalah ini kepada-Nya, Mohon kepada-Nya agar permasalahannya dapat menemui jalan keluar.

yakinlah, ketika kita dekat dengan Allah, Maka Dia akan memberikan jalan keluar dari permalasahan yang kita hadapi. Sudahkah kita mendekatkan diri pada-Nya dengan sedekat-dekatnya

hamasa mengatakan...

saya copas ya.

Bermanfaat Bagi Yang Lain mengatakan...

ya boleh di copas gak papa

diary aktivis mengatakan...

Semoga kita bisa mendapatkan istana tersebut. Amin

Yang merindukan Istana mengatakan...

Amin...

Meskipun hanya rumah bolehlah kita menyebutnya istana, Baiti Jannati

SUMARMO.COM mengatakan...

Aku setuju, nanti kita bersama-sama di sana, tapi mengapa berat melakukannya ya?

tress dhelick mengatakan...

semoga aku bisa jadi tetangga anda nanti disurga,....

Vi this is it mengatakan...

Mohon ijin untuk copy,

Bermanfaat Bagi Yang Lain mengatakan...

silahkan dicopas